"Sua, AKU BENCI PADA MEREKA! Aku BENCI mereka Sua!! Sua... " Wanita itu mengumpat penuh keputus asaan. Matanya berlinangan butiran bening yang menganak sungai membasahi wajahnya. Ekspresi kecewa dan putus asanya tergambar jelas dari gesture nya. Hidung yang menahan ingus untuk keluar. Tangisannya terbata-bata karena cegukan ikut andil. Tangan yang ingin dilampiaskan, -menghantam, melempar, memukul, apapun itu - untuk mengurangi gejolak jiwa yang meledak-ledak. Tubuh itu meringkuk lemah di depanku setelah sebelumnya gemetar hebat menahan amarah yang tertahan. Aku serba salah. Aku tidak tega melihat wanita itu terpukul begitu kuat. Aku yakin batinnya berusaha menenangkan diri begitu juga otaknya, tapi sepertinya gagal. "Sua, aku ingin ,, hiks .." Suaranya tertahan karena tangisannya. "Su..a.. Aku.. Aku ing..in kembali..." Seketika ia menguatkan kakinya yang goyah gemetar untuk mendekati sisi pagar pembatas di dekatnya. Ia berusaha berdiri di atas...
Ruang pribadi untuk refreshing dan refleksi.